zatlog

Catatan yang Memiliki Makna Dihati dan Menempati Ruang Dipikiran

Keuangan dan Investasi

Tentang Kesulitan Keuangan, Lihat Apa Saja yang Bisa Kita Alami

Kita harus mengalami kesulitan keuangan jika ingin mengetahui ini lebih dalam?

Sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami masalah kesulitan keuangan pada suatu waktu dalam hidup kita. Terutama mengingat ketidakpastian ekonomi saat ini, dimana masalah pandemi yang bahkan belum usai, telah menyebabkan banyaknya bisnis yang bangkrut. Orang-orang kehilangan pekerjaan mereka. Setiap orang mulai belajar mempersiapkan diri dalam ketidakpastian.

Di momen yang paling dramatis, kondisi keuangan bisa sangat mencekam. Rekening bank terkuras sementara biaya kebutuhan hidup meningkat. Ketegangan keuangan makin memuncak jika dipadukan dengan adanya utang dan cicilan. Penagihan oleh kreditur bisa terasa seperti teror bom.

Tapi tidak perlu benar-benar bangkrut dan terjebak dalam kesulitan keuangan untuk mengetahui ini dengan lebih dalam tentang apa saja yang bisa orang alami, pikirkan atau rasakan.

Zatlog.com bersedia membagikannya kepada Anda, apa saja yang kami ketahui tentang itu dan berharap tidak perlu untuk mengalaminya {lagi}

1. Tiga hal ini selalu ada di pikiran kita : 1. Uang. 2. Uang dan 3.Uang. Artinya segalanya adalah tentang Uang.

Semua yang kita pikirkan hanyalah tentang uang. Dimana uang berada, bagaimana meraihnya. Memikirkan berapa banyak uang yang kita butuhkan, berapa banyak yang harus dibayar. Dan kadang memikirkan juga berapa banyak uang yang dimiliki orang lain. Siapa tahu mereka bisa membantu. Sulit memikirkan hal lain selain uang. Akhirnya membuat rutinitas harian kita bisa sangat mengganggu. Kita menjadi kesulitan berkonsentrasi pada hal lain yang juga harus diperhatikan dan ditangani.

2. Merasa Stres dan kesulitan untuk tidur.

Kesulitan keuangan menimbulkan banyak emosi yang menyebabkan stres. Seseorang bisa kesulitan tidur dan beristirahat dengan nyaman. Nafsu makan juga menurun pada sebagian orang. Namun ada juga yang melaporkan sebaliknya, nafsu makan mereka menjadi tidak terkendali. Kita pada saat itu sebenarnya menyadari kualitas hidup dan kesehatan kita menurun. Namun kepedulian kita tentang kesehatan juga menurun.

3. Kesulitan keuangan bisa terasa seperti kehilangan harga diri dan kepercayaan diri.

Harga diri kita seringkali terkait erat dengan keadaan keuangan. Apalagi jika kita hidup dalam budaya yang mengukur tingkat kesuksesan secara finansial. Status keuangan terasa seperti cerminan harga diri kita. Biasanya ketika orang mengalami kesulitan keuangan atau kebangkrutan, mereka sering merasa gagal dan tidak percaya diri.

3. Kita mulai bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kita memaksimalkan penghasilan dengan pengeluaran untuk kebutuhan yang lebih penting. Mulai memikirkan cara-cara kecil untuk memotong pengeluaran dan mengkategorikan anggaran berdasarkan kebutuhan dan keinginan. Setelah itu kategori kebutuhan dipisahkan lagi antara kebutuhan yang mendesak dan yang masih bisa ditunda.

Kita menjadi sangat akrab dengan kalkulator, kertas dan pena. Mencatat semua pengeluaran harian dan bulanan. Mulai dari biaya sewa rumah, kendaraan, hingga secangkir kopi yang kita minum setiap hari

4. Kita menjadi lebih pandai memanfaatkan apa yang kita miliki.

Kita menghitung semua aset dan properti yang kita miliki. Kita menjadi lebih tahu tentang nilai dan harga dari barang yang kita miliki itu. Ketika kita kesulitan uang, Ini bisa menjadi momen pembersihan rumah. Biasanya dimulai dari barang yang sudah tidak kita butuhkan atau jarang digunakan, lalu meningkat ke barang yang sesekali kita butuhkan,. Semua barang akhirnya memiliki daftar harga di pikiran. Kita mulai berpikir untuk menjualnya. Kita bisa saja mendadak merelakan barang kesayangan untuk mendapatkan uang.

5. Kita merasa malu ketika harus meminta bantuan.

Kadang kita tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan. Dan banyak orang yang merasa sangat malu di situasi ini. Mereka merasa telah melibatkan dan menyusahkan orang dengan masalah yang mereka alami. Namun bagi mereka yang terbiasa, kadarnya bisa lebih rendah. Mereka yang berhasil melewati masa ini tanpa meminta bantuan, merasa bersyukur jika tidak sampai melibatkan orang lain dalam kesulitan keuangan mereka.

6. Kita tidak punya banyak pilihan dan pertimbangan untuk sebuah pekerjaan.

Jika biasanya kita memilih pekerjaan yang sesuai passion kita, namun ini bisa tidak lagi kita lakukan. Kita berusaha realistis untuk pekerjaan yang bisa menghasilkan uang dalam waktu dekat.

7. Ketika masalah keuangan terjadi sulit untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kita ingin melewati situasi secepat mungkin. Jadi apa yang terjadi hari ini adalah hari ini. Di kondisi inilah seringkali terjadi aksi gali lubang untuk tutup lubang. Ketika kita bangkrut atau kesulitan keuangan, kita mungkin lupa bahwa semua ini adalah hal yang sementara. Bahwa badai pasti berlalu. Walaupun kemungkinan segalanya harus dimulai kembali.

8. Kita berusaha berbahagia dengan sesuatu yang lebih sederhana dan murah.

Terkadang kita ingin melupakan dan mengabaikan masalah yang kita alami. Jadi kita ingin membuang uang sedikit dengan bersenang-senang. Kita berpikir untuk membebaskan pikiran sejenak dari kekacauan yang ada. Dan menganggap ini baik untuk menghilangkan stres. Memikirkannya hanya akan membuat kita merasa lebih buruk.

9. Putus asa dan menyerah.

Ini mungkin momen yang paling menyedihkan. Ada beberapa orang yang merasa tersesat dan tidak tahu lagi harus melakukan apa. Mereka menganggap bahwa masalah sudah tidak dapat teratasi. Mereka merasa sudah berada di titik akhir. Dan akhirnya ‘red flag‘. Bendera merah berkibar. Mereka memilih menyerah.

Demikianlah beberapa hal yang biasa dialami, dirasakan, dipikirkan oleh mereka yang sedang kesulitan keuangan. Meskipun pengalaman setiap orang bisa saja berbeda, setiap situasi yang mereka alami juga bisa berbeda, dan setiap orang bervariasi dalam memandang kesulitan keuangan yang mereka hadapi, namun sebagian besar termasuk dalam salah satu dari beberapa yang disebutkan di atas.

baca : Penyebab Usaha Gagal di Tahun Pertama

Asria Ali

Sedang menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *