Ada sebuah dunia kecil di halaman rumah saya yang tidak begitu luas. Dunia nyata yang tampak sederhana dan bergerak alami. Namun jika berada didalamnya, saya merasa aman.
Kehidupan di dunia kecil ini berjalan begitu harmoni, begitu alami, tanpa meninggalkan sesuatu yang bisa menjadi masalah di kemudian hari.

Saya memiliki kebun kecil yang terintegrasi dengan kolam ikan, peternakan ayam petelur dan maggot BSF. Setiap hari saya bisa mendapatkan beberapa butir telur juga sayur mayur seperti sawi, bayam, kangkung, daun kelor serta memanen buah Ara atau Murbei yang mudah berbuah. Saya juga bisa mencelupkan jala ke dalam ember kolam untuk mengambil ikan.
Sisa makanan dari rumah saya, menjadi kompos untuk tanaman dan menjadi pakan untuk maggot BSF. Tanaman dan maggot menjadi pakan untuk ikan dan ayam-ayam saya. Kotoran ayam dan air dari kolam ikan menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman di kebun saya.
Tak ada yang tersisa dan tak ada satupun yang terbuang sia-sia.
Itulah dunia kecil di rumah saya, Dunia yang membuat saya menyadari jika siklus kehidupan awalnya telah terbentuk begitu sempurna sebelum diintervensi oleh teknologi dan kehidupan sosial yang rumit.
Perang telah mengganggu rantai pasok global dan menaikkan harga komoditas utama secara drastis. Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini, telah merusak lahan pertanian dan menyebabkan gagal panen.
Jadi, krisis pangan bukan isapan jempol belaka. Juga bukan ancaman yang jauh dibelakang kita. Lihat bagaimana harga barang kebutuhan pokok akhir-akhir ini melonjak naik? Beberapa bahkan harganya sudah tak masuk akal.
Jangan biarkan kesejahteraan perut kita hanya bergantung pada stok pangan dari luar, mari kita bangun pangan kita sendiri dari rumah.
Saya masih ingat, ketika krisis ekonomi melanda di tahun 97/98 dan situasi di tanah air begitu memanas. Untuk mengantisipasi kelangkaan pangan, Ibu saya menyimpan cadangan beras, minyak, gula, dan menyetok berbagai bahan kebutuhan pokok di rumah. Namun setelah dewasa, saya menyadari, ini bukanlah ide yang baik. Yang terbaik adalah pergi ke halaman rumahmu lalu memproduksi makananmu sendiri. Ini adalah cara paling masuk akal dan berkelanjutan. Kamu bisa menanam singkong, ubi, ketela, sayur dan buah-buahan. Kamu bisa merawat ayam dan ikan agar mereka memberimu telur dan dagingnya, sehingga kamu tidak kekurangan gizi.
Jadi ingatlah ini, jika kau merasa terancam oleh harga kebutuhan pokok yang melonjak, dan harga barang-barang di luar sana sudah nyaris membuatmu gila, pergilah ke halaman kecil di rumahmu untuk berlindung.