Menjelang petang. Anak lelaki itu masih duduk tepekur di bawah jendela. Wajahnya pucat dan bibirnya bergetar. Air mata tak henti-henti keluar dari kelopak matanya.

Ruangan itu begitu sunyi dan temaram. Cahaya hanya menerobos lewat jendela karena pintu rumah itu tertutup rapat. Satu-satunya bunyi kecil bersumber dari bibir anak lelaki itu yang berdesis memanggil nama ibunya

Ibunya, Martha. Sudah dua hari ini diam dan tak bergerak sedikitpun. Tidak ada juga suara panggilan namanya terucapkan di bibir perempuan setengah baya itu. Setiap kali melihat wajah ibunya yang memutih, ketakutan mencekamnya. Ibunya akan mati, begitu pikirnya. Dan ia nyaris tak percaya.

Martha seorang perempuan kuat dan tak pernah mengeluh. Keluhan hanya datang dari orang-orang kampung padahal anak itu merasa tak menyusahkan mereka

“Bagaimana jika ibumu tiada, apa kau bisa mengurus dirimu sendiri nak?”

Kalimat dengan nada iba itu bagaikan silet yang menggores kepalanya

Entah kapan orang-orang di kampung ini mau menganggapnya sama dengan anak muda lainnya, yang biasa bergandengan tangan dengan gadis-gadis kampung. Membuatnya sangat iri dan berpikir kapan dia dapat seperti itu jika para gadis di kampungnya selalu menghindar jika didekati.

Cerpen : Anak Lelaki Martha

Hampir semua orang di kampung ini, kecuali kakek tua yang biasa di panggil Mbah Kun, menganggapnya bodoh dan lemah. Hanya Mbah Kun yang selalu mengajaknya berbicara dan memperlakukannya sama seperti anak muda yang lain.

“Mbah Kun”, tiba-tiba dia teringat dengan kakek tua itu. Dia lalu mencoba berdiri, melihat ke luar jendela. Dilihatnya Mbah tua itu tengah bersantai di depan rumahnya. Ditajamkan pandanngannya ke arah Mbah Kun, membuat Mbah itu menoleh dan mencoba memahami ekspresinya dari jarak sekitar lima puluh meter itu. Mbah Kun mengangkat teko kopinya lalu menunjukkan ke arah anak itu. Kemudian berpikir sebentar lalu menunjukkan sebatang rokok yang terselip di jarinya.

Anak lelaki itu menggeleng. Dia sedang tidak membutuhkan itu. Dijatuhkan badannya yang lemah. Dia terduduk memandangi ibunya yang terbujur di ranjang. Dia hampir tak percaya ketika ibunya mendadak sakit, pikirnya ibunya adalah sosok yang kuat dan tak akan pernah sakit.

Kini ia menyesalinya, sudah saatnya dia yang mengambil alih pekerjaan ibunya. Sudah saatnya perempuan itu duduk diam di rumah dan ia sendiri yang akan bekerja untuk menghidupi mereka berdua.

Orang-orang akan melihat itu semua. Sehingga terbaliklah anggapan mereka selama ini. Dia bukanlah bocah yang bodoh dan hanya menyusahkan ibunya saja. Sebaliknya dia adalah laki-laki yang berani dan kuat. Tapi sekarang ibunya akan mati dan tak ada yang dapat dilakukannya. Anak itu mengerang sesaat lalu menjatuhkan wajahnya

Cerpen : Anak Lelaki Martha

“Ada apa?” Mbah Kun sudah muncul menghampirinya yang meringkuk di bawah jendela dengan wajah putus asa. Begitu berat untuk mengangkat kepala. Dia hanya bisa melihat telapak kaki hitam yang telanjang, lusuh seperti tinggal kulit luarnya saja. Telapak kaki itu kemudian bergerak berbalik, menghilang dari pandangannya.“Oh ini rupanya,” terdengar suara yang berat.

“Syukurlah dia sudah mati, dia tidak merasakan sakitnya lagi.”

Anak itu mencoba mengangkat kepalanya, terasa berat, maka disandarkan di dinding. Dia melihat Mbah Kun menatap tersenyum pada wajah ibunya yang membeku. Mbah itu lalu menoleh ke arahnya

.“Ayo aku bantu kau menguburnya.”

Cerpen : Anak Lelaki Martha

Dia tidak bergeming. Pandangannya menatap lurus ke tubuh Martha tapi seperti pandangan yang kosong. Telapak tangan yang lemah menutupi lutut yang sejajar dada. Bibir yang tertutup rapat. Kelopak mata yang baru mengering. Cahaya yang masuk lewat jendela menimbulkan kilatan pada bening yang masih tertinggal di pipi.

Mbah Kun tidak menanti reaksinya. Mbah itu sudah keluar tapi tidak menutup pintu.

“Kenapa dia tidak menutup pintu ?” anak lelaki itu mengeluh, merasa silau dengan cahaya lebar yang masuk.

Mbah Kun lalu muncul lagi. Dia meletakkan tumpukan kain putih di sisi tempat tidur. Menyingkap selimut yang membungkus tubuh Martha kemudian mencoba mencopot daster yang dikenakan Martha. Mbah Kun seperti kesulitan melakukannya, maka dia menoleh kanan kiri.

“Gunting?’ desahnya.

Tapi dia tidak menemukannya. Padahal jika dia bergerak mencarinya, dia akan menemukannya di kotak mesin jahit.

Kreeeek… Dia merobek daster itu.

Daster yang tipis. Tak berdaya ketika tangan tua cukup kuat menariknya lalu melemparnya di bawah ranjang.

“He..he..tetek makmu masih ranum juga.” Mbah tua itu terkekeh.

“Tentu saja, dia tidak pernah mau kawin lagi semenjak bapakmu mati,” dia terkekeh lagi,

Tapi tidak lebih dari itu .Dia mengambil kain putih lalu membentangkannya. Dia bermaksud membalikkan tubuh Martha agar bisa menyelipkan kain putih itu di bawahnya. Tapi tubuh itu begitu berat tak seimbang dengan kekuatannya

“Bantu aku, bantu aku nak,” serunya dengan suaranya yang serak.

“Bantu aku, bantu aku nak,” serunya lagi lebih keras. Tapi anak itu tetap diam tak bergerak.
“Bantu aku, bantu aku nak.” Kali ini suara yang begitu halus dan memohon. Suara memanggil yang penuh kasih dan ketulusan. Suara yang hanya dimiliki….,
“Ibu…” bibir anak itu berdesis.

.“Kenapa diam saja, bantulah Mbah Kun memasang kain itu di tubuh ibu”, Martha ‘berbicara’ begitu kepadanya.
“Kamu laki-laki kuat , kamu bisa mengangkat tubuh ibu, ibu tak bisa lagi melakukannya sendiri.”

Anak itu berdiri terperangah, dia melirik kearah Mbah Kun tapi kakek tua itu asyik mengelus-elus kain putih

“Sudah lama kupersiapkan kain ini untukku tapi ternyata makmu yang beruntung memakainya,” ucap mbah tua itu, hampir tak terdengar.
Anak itu mengangkat tubuh Martha, terasa berat hingga otot lengannya terlihat,

Martha tersenyum ke arahnya.“Terima kasih nak,” ucapnya.

Kemudian anak muda itu menaruh tubuh itu lagi di atas kasur yang sudah dilapisi kain putih.
Mbah Kun mengikat tangan Martha dengan seutas tali putih, kemudian menutupi tubuh itu dengan sisi kain yang saling di pertemukan. Setelah tubuh itu terbungkus dan hanya menyembul mukanya saja . Martha berkata padanya;

“Kau tidak menciumku untuk terakhir kali kau melihat wajahku.”
Maka anak muda itupun mencium kening Martha.
Martha tersenyum lalu menutup matanya seperti tidak mau bicara lagi, dan bersiap-siap menerima kapas yang ditumpukkan ke mulut dan hidungnya oleh Mbah Kun. Tak lama tubuh itu sudah terbungkus rapi menyerupai kepompong.

Cerpen : Anak Lelaki Martha

Anak itu berdiri tegak di belakang Mbah Kun. Dari lahir hingga berusia delapan belas tahun dia merasa belum sekalipun melakukan sesuatu untuk ibunya. Martha teramat memanjakannya dan tak pernah membiarkannya bekerja. Bahkan untuk mencuci piring sekalipun. Padahal dia sangat ingin melakukannya.

Dia sungguh merasa malu pada orang-orang kampung, terutama kepada remaja seusianya. Mereka melihatnya sebagai bocah lemah dan bodoh.

“Bagaimana kamu bisa punya istri nak, jika membelah kayu pun kamu tidak bisa”. ucap Mak Kasnam ketika mendapatinya tersipu-sipu memandangi seorang gadis yang melewati depan rumahnya. Hatinya bergemuruh pada saat itu . Dia telah mencoba menunjukkan kemampuannya memanjat pohon dan membelah kayu tapi ibunya mencemaskannya. Martha takut anak satu-satunya itu terluka.

“Ayo nak kita angkat sama-sama.”
Mbah Kun menyelipkan tangan kanannya di bawah kepala Martha dan tangan kirinya merangkul tubuh Martha, bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya. Tapi anak itu menarik bahu Mbah Kun sehingga Mbah Kun mundur dua langkah. Dia sendiri yang mengangkat tubuh itu. Rasanya lebih ringan ketimbang yang pertama karena dia telah menyesuaikan tenaganya. Tubuh itu dibopongnya keluar rumah dan Mbah Kun berlari mendahului.

“Belok ke belakang nak.

”Mbah Kun menuntunnya memasuki pekarangan luas di belakang rumah yang banyak ditumbuhi tanaman singkong. Melewati pohon mangga yang berbuah lebat, lalu melewati pohon pisang, pohon mangga lagi, kali ini mangga golek yang juga berbuah lebat. Terus lurus dan berhenti. Jelaslah padanya sebuah lubang satu kali dua meter yang menganga

.“Sejak lama kupersiapkan kuburan ini untukku , tapi ternyata ibumu yang beruntung menghuninya,” Mbah tua itu terkekeh.

Tapi setelah menoleh ke arah anak itu buru-buru dia berkata
“Segera turunkan nak , kau kelihatan kecapaian.”

Anak muda itu menurutinya.
“Pas ya ? ukuran lubang yang pas,” mbah tua itu nampak puas.

Cerpen : Anak Lelaki Martha

Anak itu berdiri memandangi tubuh yang sudah berada di dalam lubang. Dia tidak menyangka dapat melakukan itu : Membopong tubuh ibunya lalu meletakkannya di dalam liang kubur. Tapi dia melakukannya, dia benar-benar melakukannya.

Dan mereka, orang-orang kampung itu, terutama gadis-gadis dan anak muda seusianya yang biasa meliriknya dengan pandangan aneh dan menjadikannya bahan cemoohan, tengah menyaksikan semua yang dilakukannya. Dia merasa bangga. Dadanya mengembang.

Cerpen : Anak Lelaki Martha

Sementara orang-orang kampung hanya mengamati mereka dari jauh. Anak-anak kecil dan wanita muda bergidik ketakutan. Sementara orang tua menggeleng-gelengkan kepala. Mereka tidak berani mendekat dan tidak perlu ada pertanyaan untuk itu.

Mereka tahu Martha sakit sejak seminggu yang lalu. Selama sakit janda yang dikenal pendiam dan tertutup itu tidak pernah tampak lagi. Dan rumahnya pun selalu tertutup. Dan sekarang dua manusia itu tengah menguburkan mayatnya di belakang rumah mbah tua itu.

Cerpen : Anak Lelaki Martha

Mereka amat mengenalinya. Anak muda itu adalah anak kandung Martha yang memiliki keterbelakangan mental. Sering mengkhayal dan berbicara sendiri. Mereka mengasihaninya dan ingin membantu tetapi anak itu selalu menjauh dan memandang bengis ke arah mereka.

Sementara kakek tua itu adalah Mbah Kun. Orang yang paling tua usianya di kampung itu. Yang dulu pernah menggemparkan kampung karena mengubur hidup-hidup istrinya yang tengah sakit. Kala itu aparat kampung memutuskan mbah tua itu pengidap gangguan jiwa, sehingga dianggap tidak perlu ada hukuman untuk itu

Cerpen : Anak Lelaki Martha

.Anak itu menoleh ke arah mereka dengan senyum dikulum. Tidak ada lagi guratan kesedihan di wajahnya. Orang-orang kampung itu tengah memandangnya takjub dengan kekaguman yang luar biasa, karena dia begitu kuat mengangkat tubuh ibunya dan tidak menangis menghadapi kenyataan pahit itu.

Sementara orang-orang kampung menjadi semakin cemas. Anak lelaki Martha memandang ke arah mereka dengan wajah tersipu-sipu. Lalu melambaikan tangannya dengan sikap santun, seperti meniru tokoh yang akan mengakhiri sebuah pertunjukan.

Cerpen : Anak Lelaki Martha

Dengan bahu yang tegak dan langkah teratur anak lelaki itu melangkah melewati pandangan mata orang-orang. Dengan bibir penuh senyum dia menuju ke rumahnya. Membuka pintu rumah lebar-lebar kemudian membereskan perabotan rumahnya. Menyapu, memasak air, mencuci piring, membelah kayu, semua dikerjakannya hingga larut malam. Saat ia menyadari tak ada lagi orang kampung yang melewati depan rumahnya, dia akhirnya jatuh kelelahan di ubin.(*

Baca : Cerpen islami : Mantra Ajaib Badrul

Asria Ali

Sedang menulis

Artikel yang Disarankan